Laporan Dominasi Tunas Apikal (Fisiologi Tumbuhan)

Nama : R. Tia Santiani Heryana Tanggal Praktikum : 4 Mei 2010
NRP : A34080072 Bahan Tanaman : Kacang Hijau
Mayor : Proteksi Tanaman
Kelompok : 6 / Bio.3
Nama Asisten : Paraf : Nilai :
1. Lia Amelia (G34062494)
2. Mafrikhul M (G34052008)

PENGHAMBATAN TUMBUHAN TUNAS LATERAL
DAN DOMINASI TUNAS APIKAL

Tujuan :
Meneliti pengaruh auksin terhadap pertumbuhan tunas lateral.

I. PENDAHULUAN
Terdapat dua fase dalam pertumbuhan tumbuhan secara umum, yaitu fase pertumbuhan vegetatif dan fase pertumbuhan generatif. Pada fase pertumbuhan vegetatif terjadi pertumbuhan pada proses pembentukan organ yang baru seperti daun, cabang, dan akar. Sedangkan pada fase pertumbuhan generatif terbentuk organ alat perkembang biakan seperti bunga, buah, dan biji.
Pada tumbuhan dikotil, pertumbuhan secara, fase pertumbuhan vegetatif di tandai dengan adanya dominasi pucuk yang akan menghambat pertumbuhan lateral. Dominasi pertumbuhan pucuk dapat dikurangi dengan memotong bagian pucuk tumbuhan yang akan mendorongpertumbuhan tunas lateral. Pertumbuhan tunas lateral akan terhambat bila bagian pucuk yang di potong diberi auksin. Hal tersebut menunjukan adanya pengaturan mekanisme pengaturan pertumbuhan kearah lateral oleh auksin. Auksin diproduksi secara endogen pada bagian pucuk tumbuhan, yang akan didistribusikan secara polar yang mampu menghambat pertumbuhan tunas lateral.

II. HASIL PENGAMATAN
Perlakuan Panjang rata-rata tunas lateral (mm) Diameter rata-rata batang (mm)
Kontrol 7 4
Tanaman dipotong & diberi pasta lanolin - 6
Tanaman dipotong & diberi pasta IAA - 7,5

III. PEMBAHASAN
Auksin merupakan hormon terhadap tumbuhan yang mempunyai peranan luas terhadap pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan. Sifat penting auksin adalah berdasarkan konsentrasinya, dapat merangsang dan menghambat pertumbuhan. Auksin berperan penting dalam perubahan dan pemanjangan sel.
Berdasarkan hasil percobaan, diketahui bahwa pada tanaman yang dipotong dan diberi pasta lanolin atau IAA, pertumbuhan tunas lateral tanaman tersebut menjadi terhambat bahkan tidak tumbuh sama sekali. Berbeda dengan tanaman kontrol yang pertumbuhan tunas lateralnya lebih cepat dibandingkan dengan tunas apikal. Hal terjadi karena dengan memotong bagian pemanjangan pada koleptil atau batang dikotil, kemudian menumbuhkannya dengan menambahkan auksin, yaitu berupa groowton. Jika groowton ditambahkan pada sisa batang yang terpotong, maka perkembangan kuncup samping dan arah pertumbuhan yang tegak akan terhambat.
Pengaruh auksin terhadap pertumbuhan jaringan tanaman diduga melalui dua cara, yaitu : 1) Menginduksi sekresi ion H+ keluar sel melalui dinding sel. Pengasaman dinding sel menyebabkan K+ diambil dan pengembalian ini mengurangi potensial air dalam sel. Akibatnya air masuk ke dalam sel dan sel membesar, dan 2) Mempengaruhi metabolisme RNA yang berarti metabolisme protein, mungkin melalui trankripsi molekul RNA. Auksin sintetik yang sering digunakan dalam kultur jaringan tanaman memacu terjadinya dominasi apikal, serta dalam jumlah sedikit memacu pertumbuhan akar.

IV. KESIMPULAN
pada tanaman yang dipotong dan diberi pasta lanolin atau IAA, pertumbuhan tunas lateral tanaman tersebut menjadi terhambat bahkan tidak tumbuh sama sekali. Hal terjadi karena dengan memotong bagian pemanjangan pada koleptil atau batang dikotil, kemudian menumbuhkannya dengan menambahkan auksin, yaitu berupa groowton. Jika groowton ditambahkan pada sisa batang yang terpotong, maka perkembangan kuncup samping dan arah pertumbuhan yang tegak akan terhambat.

DAFTAR PUSTAKA
[Anonim].2008.mukhtarom-ali.blogspot.com/2008/02/fungsi-auksin.html (20 Mei 2010)
[Anonim].2009.21ildahshiro.blogspot.com/…/fisiologi-tumbuhan-pengaruh-auksin.html
(20 Mei 2010)
[Anonim].2009.ikaakmala-akmal.blogspot.com/…/dominasi-pertumbuhan.html (20 Mei 2010)
[Anonim].2010.wawan-junaidi.blogspot.com/…/pengaruh-auksin-terhadap-pemanjangan.html (20 Mei 2010)

JAWABAN PERTANYAAN
1. Menyebabkan pembesaran diameter batang, berhubungan dengan pembelahan sel di daerah kambium dimana hal tersebut terjadi karena pengaruh fisiologis auksin. Dan menghambat pertaumbuhan tunas lateral.
2. Auksin dapat menghambat pertumbuhan tunas lateral berkolerasi dengan jarak terhadap meristem apikal. Keefktifan auksin bergantung pada konsentrasinya dan jenis tempat.
3. Kegunaan dari pengaruh auksin terhadap pertumbuhan lateral yang dapat dimanfaatkan pada pemeliharaan tanaman tahunanadalah, misalnya pada teh, yang dibutuhkan adalah tunas/ daun sedangkan auksin menghambat tunas lateral. Daun di petik dan diolah dengan adanya pemangkasan, pengaruh auksin terhambat sehingga tunas lateral tumbuh dan tanaman tumbuh lebat.
4. Pengaruh pemangkasan pucuk terhadap pertumbuhan adalah untuk menghambat kandungan auksin pada tumbuhan yang mendominasi pertumbuhan tunas apikal sehingga, jika auksin dihambat maka tunas lateral dapat terangsang untuk perkembangan dengan baik dan cepat. Hal ini dilakukan pada tanaman hortikultura karena untuk memperoleh hasil yang besar dan memperbanyak percabangan sehingga bisa didapat hasil yang besar dan memperbanyak percabangan sehingga bisa bisa didapat hasil yang lebih banyak berupa buah dan daun.

Laporan Percobaan Atraktan (IHTD)

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR

PERCOBAAN ATRAKTAN

Kelompok 2 :
Siti Syarah Maesyaroh A34080010
Evy Sonita Harahap A34080037
Syaiful Khoiri A34080069
R. Tia Santiani H A34080072
M. Prio Santoso A34080081

Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Si.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Aroma atau bau tertentu juga dapat menarik perhatian serangga. Mereka tertarik pada aroma yang dikeluarkan lawan jenisnya dengan zat tertentu saat akan melakukan kawin. Dengan mengetahui sifat serangga seperti itu maka telah dikembangkan perangkap aroma dengan menggunakan atraktan. Atraktan merupakan bahan pemikat yaitu suatu bahan kimia yang tergolong pestisida dimana bahan aktifnya bersifat memikat jasad sasaran yang biasanya khusus untuk serangga tertentu. Penggunaan perangkap aroma merupakan perangkap yang paling banyak digunakan petani terutama untuk pengendalian serangga lalat buah baik pada cabai, mangga dan lain-lain. Contohnya adalah Methyl eugenol dan Minyak Melaleuca Brachteata yang juga dapat digunakan sebagai sex feromon untuk menarik perhatian serangga lalat buah pada cabai.
Berbeda dengan hormon, yang merupakan isyarat internal bagi serangga secara individual, feromon dan alomon merupakan bahan kimia yang disekresi keluar tubuh serangga oleh kelenjar eksokrin sehingga bereaksi di luar tubuh (antar individu). Feromon menjembatani komunikasi individu dalam satu spesies. Kegunaannya beragam mulai dari daya tarik antar kelamin, mencari pasangan, mengisyaratkan bahaya, menandai jejak dan wilayah, serta berbagai interaksi intraspesifik lainnya. Sedangkan allomon merupakan bahan kimia yang bekerja menjembatani komunikasi antar spesies dengan keuntungan bagi penghasil allomonnya. Allomon dipergunakan untuk mengusir predator, membingungkan mangsa, dan memediasi interaksi simbiotik.

Tujuan
Mengetahui ketertarikan lalat buah jantan terhadap atraktan Methyl eugenol serta mengidentifikasi spesies lalat buah yang tertarik terhadap atraktan tersebut.

BAHAN DAN METODE

Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam percobaan kali ini adalah Methyl eugenol 2 ml dengan merek dagang petrogenol, pestisida 2 ml dengan merek dagang Decis 2,sec, kapas, kertas label, dan pohon belimbing yang ada di sekitar asrama putri IPB.
Alat yang digunakan adalah perangkap yang terbuat dari wadah plastik berlubang, kawat penggantung wadah plastik dan kawat penggantung kapas.

Metode
Wadah plastik dilubangi bagian atas dan bawahnya. Pada bagian samping, diberi kawat untuk menempelkan kapas dan kawat penggantung. Disisi yang berhadapan dengan kawat yang digantung, dilubangi sebanyak 3 lubang untuk ketiadaan genangan air. Pada saat pemakaian, wadah plastik dimiringkan sehingga lubang terletak pada bagian kanan kiri.
Kapas dibasahi dengan 2 ml Methyl eugenol untuk wadah plastik pertama dan kedua, masing-masing ditambahkan pestisida sebanyak 2 ml. Pestisida berfungsi untuk membunuh lalat buah yang tertangkap. Alat perangkap dibawa ke Asrama putri IPB dan digantungkan pada pohon belimbing di bagian dahan. Perangkap dibiarkan di pohon selama 1 minggu.
Setelah 1 minggu, perangkap diambil dari pohon dan banyaknya lalat buah yang tertangkap dalam masing-masing wadah diamati, kemudian spesies lalat buah yang ada dihitung dan diidentifikasi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel hasil pengamatan
Hari Perangkap 1 (ekor) Perangkap 2 (ekor)
Rabu 10 29
Kamis 8 27
Jum’at 6 27
Sabtu 4 25
Minggu 4 22
Senin 4 19
Rata-rata 6 25

Pembahasan
Lalat buah merupakan hama yang sangat merugikan di bidang hortikultura, yang dapat menurunkan produktivitas buah-buahan dan sayuran buah segar di dalam negeri (Kepmentan,2006). Pengendalian yang dilakukan pada umumnya adalah dengan pembungkusan buah-buahan ataupun pemberonjongan pohonnya dengan kasa, pengasapan untuk mengusir lalat buah, penyemprotan dengan insektisida, pemadatan tanah di bawah pohon untuk memutus siklus hidup serta penggunaan atraktan (zat pemikat) yang salah satunya berbahan methyl eugenol.
Penggunaan atraktan metil eugenol merupakan cara pengendalian yang ramah lingkungan dan telah terbukti efektif. Atraktan dapat digunakan untuk mengendalikan hama lalat buah dalam tiga cara yaitu : (1) Mendeteksi atau memonitor populasi lalat buah, (2) menarik lalat buah untuk kemudian dibunuh dengan perangkap, dan (3) mengacaukan lalat buah dalam perkawinan, berkumpul dan cara makan.
Atraktan merupakan zat yang bersifat menarik (lure), mengandung bahan aktif metil eugenol. Penggunaan Metil eugenol sebagai atraktan lalat buah tidak meninggalkan residu pada buah dan mudah diaplikasikan pada lahan yang luas. Karena bersifat volatil (menguap), daya jangkaunya atau radiusnya cukup jauh, mencapai ratusan meter, bahkan ribuan meter, bergantung pada arah angin. Namun, cara-cara pengendalian ini dirasa masih kurang efektif, karena tidak dilakukan secara serentak dan kontinu, sehingga daerah yang tidak dikendalikan menjadi sumber infeksi di masa mendatang. Selain hal teknis, juga masalah mahalnya zat pengendali, khususnya atraktan lalat buah, sehingga petani/pengguna belum semuanya mampu memperoleh bahan ini.
Berdasarkan hasil pengamatan kelompok kami, pada perangkap pertama lalat buah yang tertangkap rata-ratanya adalah 6 ekor. Sedangkan pada perangkap kedua 25 ekor. Selama pengamatan (6 hari) jumlah lalat buah yang terperangkap berubah-rubah, pada perangkap 1 adalah 10, 8, 6, 4, 4, dan 4 ekor Bactrocera spp. (Diptera : Tephritidae). Sedangkan pada perangkap 2 adalah 29, 27, 27, 25, 22, dan 19 ekor Bactrocera spp. (Diptera : Tephritidae). Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa semakin lama hari pengamatan, jumlah lalat buah yang terperangkap semakin sedikit. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya berkurangnya aroma dari methyl eugenol akibat terjadinya penguapan dan pengaruh angin, faktor cuaca (hujan), lokasi penyimpanan perangkap, dll.

KESIMPULAN

Feromon seks merupakan feromon yang mampu menarik serangga jenis kelamin lain pada jarak yang cukup jauh, ada pula yang bekerja pada jarak dekat dan penerima menanggapinya dengan serangkaian perilaku “courtship” atau mencari pasangan. Feromon seperti ini tidak diproduksi terus menerus, tetapi hanya ketika serangga telah mencapai usia cukup dewasa untuk kawin, dan bahkan itu pun pada saat tertentu saja. Methyl eugenol merupakan senyawa atraktan yang komposisinya mirip dengan feromon seks lalat buah betina, sehingga dapat menarik lalat buah jantan untuk mendekat.  
DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Pertanian No.37 Tahun 2006 tentang Persyaratan Teknis dan Tindakan Karantina Tumbuhan untuk Pemasukan Buah-Buahan dan atau Sayuran Buah Segar ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia.
[Anonim].2009.http://Karantina.deptan.go.id/doc/identifikasi (5 Mei 2010)
[Anonim].2009.http://mediamedika.net/ (5 Mei 2010)

Laporan Ilmu Hama Tumbuhan Dasar

TUGAS INDIVIDU
ILMU HAMA TUMBUHAN DASAR
“Literatur Field Trip 1”

Disusun oleh :
R. Tia Santiani Heryana – A34080072

Dosen Pengajar :
Dr. Ir. Nina Maryana, M.Si.

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2010
1. Padi
a. Tikus (Rattus argentiventer)
Tikus menyerang di persemaian, masa vegetatif, masa generatif, masa panen, tempat penyimpanan. Pengendalian : 1). Lakukan gropyokan dengan mengerahkan para petani untuk memburu, membunuh semua tikus dengan cara membongkar sarang tikus, 2). Lakukan emposan atau fumigasi yaitu dengan cara membakar campuran belerang dan merang atau sabut kelapa kedalam lubang tikus. Saat yang tepat melakukan fumigasi yaitu pada masa generatif, dan 3). Lakukan pemasangan perangkap dengan bubu pada setiap jarak tertentu di sepanjang pinggir persawahan. Penanaman padi secara serentak bermanfaat agar tikus tidak memusat pada suatu areal pertanaman.
b. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Ordo Lepidoptera, famili Noctuide. Ulat berwarna hitam, pupa berwarna cokelat kehitaman dan imago berwarna abu-abu, sayapnya cokelat. Imago betina selama hidupnya mampu bertelur hingga 1800 telur. Pada siang hari ulat bersembunyi di dalam tanah dan aktif menyerang tanaman pada sore dan malam hari. Pengendalian ulat ini diarahkan pada cara bercocok tanam yang lebih baik seperti pengolahan tanah yang intensif sehingga mampu menekan kehidupan larva dan pupa.
c. Ulat grayak (Spodoptera mauritia, S.litura, S.exigua, S.exempta)
Termasuk Ordo Lepidoptera, famili Noctuidae. Ulat grayak sering disebut dengan ulat tentara (army worm). Setiap imago betina mampu produksi telur hingga 1500 butir. Larva berwarna hijau dengan garis putih di sepanjang tubuhnya. Pupa berwarna cokelat kehitaman dan berada didalam tanah. Perkembangan telur hingga menjadi ngengat selama satu bulan. Pengendalian dilakukan dengan pengolahan tanah yang baik, irigasi yang baik, membersihkan gulma disekitar tanaman. Penggunaan insektisida berupa insektisida sistemik atau insektisida racun perut.
d. Pengerek Batang Padi
1. Pengerek Batang Padi Putih(Tryporyza innotata)
Tryporyza innotata dinamakan pengerek batang padi putih karena ngegatnya berwarna putih. Dahulu hama ini dikenal hama yang menghuni hamparan sawah tadah hujan. Namun demikian hama ini justru lebih banyak ditemukan didaerah berpengairan teknis seperti di jalur pantura (pantai utara jawa). Perubahan prilaku ini diduga merupakan akibat dari pembangunan saluran irigasi dan pengaruh pestisida yang digunakan secara terus menerus.
2. Pengerek Batang Padi Kuning (Scirpopaga incertulas)
Scirpopaga incertulas atau disebut juga Tryporyza incertulas dkenal sebagai pengerek batang padi kuning karena ngegatnya berwarna kuning kecoklatan. Ciri lain dari ngegat ini adalah titik hitam dibagian belakang sayap depannya. Dahulu hama ini dikenal sebagai hama yang ada pada pengairan yang baik dimana ngegat tidak mengalami masa puasa. Namun demikian kini hama ini justru menyebar di daerah yang menanam padi dua kali setahun.
e. Lalat bibit (Atherigona exigua, A.oryzae)
Lalat bibit meletakkan telur pada pelepah daun padi pada senja hari. Telur menetas setelah dua hari dan larva merusak titik tumbuh. Pupa berwarna kuning kecoklatan terletak di dalam tanah. Setelah keluar dari pupa selama 1 minggu menjadi imago yang siap kawin. Hama ini menyerang terutama pada kondisi kelembaban udara tinggi. Pengendaliannya diutamakan pada penanaman varitas yang tahan.
f. Anjing tanah (Gryllotalpa hirsuta atau Gryllotalpa africana)
Anjing tanah juga disebut orong-orong hidup dibawah tanah yang lembab dengan membuat terowongan. Hama ini juga memakan hewan-hewan kecil (predator), tetapi tingkat kerusakan tanaman lebih besar dari pada manfaatnya sebagai predator. Nimfa muda memakan humus dan akar tanaman, imago betina sayapnya berkembang setengah, yang jantan dapat mengerik di senja hari. Pengendaliannya diarahkan pada pengolahan tanah yang baik agar terowongan rusak.
g. Uret (Exopholis hypoleuca, Leucopholis rorida, Phyllophaga helleri)
Uret adalah larva serangga ordo Coleoptera famili Melolonthidae, uret yang merusak tanaman padi terdiri dari spesies Exopholis hypoleuca, Leucopholis rorida, dan Phyllophaga helleri. Kumbang hanya makan sedikit daun-daunan dan tidak begitu merusak dibanding uretnya. Pengendalian diarahkan pada sistem bercocok tanam yang baik agar vigor tanaman baik.
h. Ganjur (Orseolia oryzae)
Hama ganjur sejenis lalat ordo Diptera. Ngengat betina hanya kawin satu kali seumur hidupnya, bertelur antara 100-250 telur. Telur berwarna coklat kemerahan dan menetas setelah 3 hari. Larva makan jaringan tanaman diantara lipatan daun padi, pertumbuhan daun padi jadi tidak normal. Pucuk tanaman menjadi kering dan mudah dicabut. Masa larva selama 6 – 12 hari. Siklus hidup keseluruhan 19 – 26 hari.
Pengendalian diarahkan pada penanaman varietas yang resisten, penggenangan areal pertanaman sesudah panen agar pupanya mati.
Parasit Platygaster oryzae (Hymenoptera, Scelionidae), penggunaan insektisida tidak dianjurkan karena tidak efisien.
i. Pengorok daun
Pengorok daun memakan jaringan daun yang terdapat di antara epidermis atas dan bawah daun, seperti membuat terowongan.
Pengorok daun atau hama putih (Nymphola depunctalis) menyerang daun padi sejak dipesemaian hingga dilapang. Daun padi yang telah dikorok menjadi putih, tinggal kerangka daunnya saja.
Pengendalian dengan cara meniadakan genangan air pada pesemaian sehingga larva tidak dapat memanfaatkan air sebagai sumber oksigen. Lalat Tabanidae dan semut Solenopsis gemitata merupakan musuh alami.
j. Wereng coklat (Nilaparvata lugens)
Termasuk ordo Homoptera, famili Delphacidae. Serangga perusaknya nimfa dan imago. Tanaman muda yang terserang akan menguning dan mati, tanaman tua pertumbuhannya akan merana dan bulir padi akan hampa. Wereng coklat menghisap cairan tanaman sehingga pada tanaman padi yang terserang secara luas terlihat gejala terbakar (hopper burn) yang sering disebut puso.
Pengendalian diutamakan dengan menanam varietas yang resisten, pengaturan pola tanam, penanaman secara serentak, rotasi tanaman secara serentak. Pembakaran sisi tanaman dapat memutus siklus hidup wereng coklat. Penggunaan insektisida dilakukan jika populasi wereng sudah 5 ekor atau lebih per rumpun tanaman yang berumur kurang 40 hari, populasi 20 ekor per rumpun tanaman yang berumur lebih 40 hari.
k. Wereng hijau (Nephotettix spp.)
Termasuk ordo Hemiptera famili Jassidae (cicadellidae), produksi telur dapat mencapai 200 telur. Wereng hijau terutama menyerang daun tetapi tidak berarti, hanya saja wereng hijau berperan sebagai vektor penyakit virus tungro dan penyakit mikoplasma kerdil kuning. Pengendalian diutamakan dengan menanam varietas yang resisten, pengaturan pola tanam, penanaman secara serentak, rotasi tanaman secara serentak.
l. Walang sangit (Leptocoriza oratorius)
Baik nimfa maupun imago melakukan serangan dengan cara menghisap cairan buah, menyebabkan buah jadi hampa. Bekas tusukannya berwarna bercak putih dan lama-kelamaan menjadi coklat atau hitam karena ditumbuhi cendawan Helminthosporium. Pengendalian dengan melakukan penanaman serentak, atau penyemprotan insektisida.

2. Terong
Terung (Solanum melongena) merupakan tanaman setahun berjenis perdu yang dapat tumbuh hingga mencapai tinggi 60-90 cm. Daun tanaman ini lebar dan berbentuk telinga. Bunganya berwarna ungu dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan terbentuk dalam tandan bunga.
a. Kumbang Daun (Epilachna spp.)
Gejala serangan adanya bekas gigitan pada permukaan daun sebelah bawah, bila serangan berat dapat merusak semua jaringan daun dan tinggal tulang-tulang daun saja. Pengendalian, kumpulkan dan musnahkan kumbang, atur waktu tanam, pencegahan dengan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali.
b. Kutu Daun (Aphis spp.)
Menyerang dengan cara mengisap cairan sel, terutama pada bagian pucuk atau daun-daun masih muda, Daun tidak normal, keriput atau keriting atau menggulung, Sebagai vektor atau perantara virus. Pengendalian, mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, pencegahan semprot PENTANA + AERO 810 atau Natural BVR setiap 1-2 minggu sekali.
c. Tungau ( Tetranynichus spp.)
Serangan hebat musim kemarau. Menyerang dengan cara mengisap cairan sel tanaman, sehingga menimbulkan gejala bintik-bintik merah sampai kecoklat-coklatan atau hitam pada permukaan daun sebelah atas ataupun bawah. Pengendalian sama seperti pada pengen dalian kutu daun.
d. Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon)
Bersifat polifag, aktif senja atau malam hari. Menyerang dengan cara memotong titik tumbuh tanaman yang masih muda. sehingga terkulai dan roboh. Pengendalian, kumpulkan dan musnahkan ulat, pencegahan siram atau semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810.
e. Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Bersifat polifag. Menyerang dengan cara merusak (memakan) daun hingga berlubang-lubang. Pengendalian, mengatur waktu tanam dan pergiliran tanaman, semprot dengan Natural VITURA.
f. Ulat Buah ( Helicoverpa armigera.)
Bersifat polifag, menyerang buah dengan cara menggigit dan melubanginya, sehingga bentuk buah tidak normal, dan mudah terserang penyakit busuk buah. Pengendalian, kumpulkan dan musnahkan buah terserang, lakukan pergiliran tanaman dan waktu tanam sanitasi kebun, pencegahan semprotkan PESTONA atau PENTANA + AERO 810 setiap 1-2 minggu sekali.

3. Bawang daun
a. Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Hama yang sering diternukan di areal penanaman bawang daun antara lain ulat tanah (Agrotis ipsilon). Hama ini bisa membuat tanaman rebah. Pangkal batang yang diserang akan memperlihatkan bekas gigitannya. Bisa juga batang sampai terpotong hingga putus. Pengendalian mekanis: mengumpulkan ulat di malam hari, menjaga kebersihan kebun dan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae. Pengendalian kimia: umpan beracun yang dipasang di malam hari berupa campuran 250 gram Dipterex 95 Sl 125, 10 kg dedak dan 0,5 gram gula merah dan dilarutkan dalam 10 liter air; Insektisida berupa Dursban 20 EC atau Hostahion 40 EC.
b. Ulat penggerek daun (Spodoptera eaygua)
Daun-daun yang berlubang sering disebabkan oleh ulat penggerek daun (Spodoptera eaygua). Saat tanaman masih kecil imagonya meletakkan telur di daun, dan ulatnya yang menetas memakan daun terutama dari bagian pinggir dan bawah. Pengendaliannya dengan menyemprotkan insektisida Azodrin 2-3 cc/1 air atau Diazinon 60 EC dengan dosis 1-2 cc/1 air.
c. Ulat bawang/ulat grayak (Spodoptera exiqua)
Ulat bawang/ulat grayak (Spodoptera exiqua), Pengendalian: cara pergiliran tanaman dengan tanaman bukan Liliaceae dan pengendalian kimia dengan Hostathion 40 EC, Orthene 75 SP, Cascade 50 EC atau dengan perangkap ngengat.
d. Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci)
Thrips/kutu loncat/kemeri (Thrips tabbaci) Pengendalian: pergiliran tanaman bukan Liliaceae, menanam secara serempak, memasang
perangkap serangga berupa kertas/dengan insektisida Mesurol 50 WP.

4. Oyong

5. Caisin

6. Jambu Bol

a. Ulat parasa/ulat bajra (Parasa lepida Cr.)
Ciri: ulat berwarna kuning kehijauan dengan garis biru di punggung, berukuran 20-25 cm dan berbulu yang menyebabkan rasa gatal. Gejala: daun robek atau bolong tidak teratur. Pengendalian: kimia dengan insektisida Decis 2,5 EC/Curacron 500 EC.
b. Ulat trabola (Trabala pallida)
Ciri: tubuh ulat bagian kiri dan kanan berbulu lebat, dengan kepala merah bergaris kuning. Gejala: menyerang daun dan pada serangan berat dapat menyebabkan tanaman gundul. Pengendalian: insektisida Decis 2,5 EC atau Curacron 500 EC.
c. Lalat megatrioza (Megatrioza vitiensis)
Ciri: lalat kecil berwarna hitam kekuningan. Gejala: larva menyerang buah dengan cara menggerek dan melubangi dan hidup di dalamnya. Buah dapat gugur. Pengendalian: membungkus buah dengan ijuk, menggunakan perangkap berbahan aktil metyl eugenol, insektisida sistemik Perfekthion 400 EC dengan cara infus akar/batang menjelang masa berbunga.
d. Lalat bisul (Procontarini mattiana Kieff & Cicec)
Gejala: daun berbintil-bintil atau berbisul kecil. Pengendalian: memangkas daun yang terserang, sanitasi kebun dan insektisida sistemik Perfekthion 400.

Institut Pertanian Bogor
IPB Badge IPB Badge IPB Badge